Pikiran yang tiba-tiba terlintas membuat merinding dan terhenti.

Drama W ini bukan sekedar drama fantasi.
Drama ini mengingatkan saya tentang sabda Nabi.

Hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ الَّذينَ يصنَعونَ هذِه الصُّوَرَ يعذَّبونَ يومَ القيامةِ ، يقالُ لَهم : أحيوا ما خلقتُمْ

“orang yang menggambar gambar-gambar ini (gambar makhluk bernyawa), akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من صوَّرَ صورةً في الدُّنيا كلِّفَ يومَ القيامةِ أن ينفخَ فيها الرُّوحَ ، وليسَ بنافخٍ

“barangsiapa yang di dunia pernah menggambar gambar (bernyawa), ia akan dituntut untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut di hari kiamat, dan ia tidak akan bisa melakukannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Astaghfirullahal’adzim..

Sumber: https://muslim.or.id/26684-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa.html

View on Path

Ingin mendengar Allah bicara, Tilawah-lah

Dalam sebuah forum lingkaran, seorang teman pernah berkata.

Jika ingin berbicara kepada Allah, perbanyak Tahajud.
Jika ingin mendengar Allah bicara, perbanyak Tilawah.

Saya pernah berbicara kepada Abah mengenai begitu banyak dan beragamnya orang yang datang melaksanakan ibadah Umroh.

“Kalau melihat yang seperti ini, manusia datang dari berbagai penjuru, beda negara, beda bahasa, beda kebiasaan, itu seperti yang pernah Allah bilang kan, Bah, kita diciptakan berbangsa dan bersuku supaya saling mengenal. Itu surah apa, Bah? Ayatnya yang gimana?”.

Waktu ditanya, Abah juga lupa itu surah apa dan ayat berapa.

Beberapa hari kemudian, saat tilawah, saya bertemu dengan ayat ini:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. [Q.S. Al Hujurat (49): Ayat 13]

Di lain waktu.
Kabar meninggalnya Kakak Ipar begitu mengejutkan saya.
Sedih, pada saat itu kami tidak bisa jumpa beliau untuk terakhir kalinya karena sedang berada di Tanah Suci.
Sedih, karena sebelum berangkat saya belum sempat menjenguk beliau.

Hari itu juga, saat tilawah, Allah yang begitu menyayangi saya, mengingatkan saya langsung dengan mempertemukan saya dengan ayat ini:

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” [Q.S. Al Baqarah (2): Ayat 156]

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah kata yang ingin saya ketahui artinya.
Sebuah kata dalam bahasa Arab.
Kalau saya mau, sebenarnya saya bisa cari di kamus atau google.
Tapi entah kenapa belum saya lakukan.

Kemarin lusa, lagi-lagi Allah berbicara kepada saya dengan menunjukkan sebuah ayat yang mengandung satu kata itu.
Tak perlulah saya tuliskan di sini kata apa yang saya maksud dan di Surah apa saya menemukan artinya.
Cukup Allah dan saya yang tahu.

Karena kata itu adalah namamu.

Sebanyak-banyaknya judul film dan drama koleksi saya.
Seberdarah-berdarahnya hdd yang saya punya.
Jangan tanya film horor sama saya.

Dulu, waktu mau nonton Master’s Sun-nya Sojisub-Gonghyojin aja harus mikir berkali-kali
Akhirnya nonton juga, tapi di siang hari.
Kadang masih harus nutup muka pake jari-jari.

Lagian saya masih ingat kalimat Ust. Anis soal org b*d*h yang membayar untuk menakut-nakuti diri sendiri.

Dibayarin aja ga mau, apalagi mesti bayar sendiri.
Dikasih juga nolak, apalagi mesti donlod sendiri.

Ya, film horor cuma buat orang pemberani.
Yang menjamin dirinya bisa tidur tenang tanpa membawa si hantu ke dalam mimpi.

Salam damai dari hati.
Dari seseorang yang masih takut sama suara HiHiHiHi😀

View on Path

Menunggu Kau Mengejar

Menunggu suatu saat nanti seseorang kan datang ke sini.
Mengejar dengan kemungkinan lebih pasti mendapatkan seseorang yang diingini.

Dan sampai saat ini,
Menunggu, masih jadi pilihanku.

Saya ingat betul, apa yang dikatakan Mama mengenai restu dan mungkin ini yang jadi alasan saya memilih menunggu.

Akan lebih baik, jika orang lain yang suka dan menginginkan kamu jadi istri/menantu di keluarga mereka.
Jika suatu saat kamu melakukan kesalahan kecil, mereka akan memaklumi.
Karena sedari semula, mereka menerimamu apa adanya.

Tapi, jika kamu mengejar seseorang dan kemudian masuk ke keluarga mereka.
Ada kemungkinan kesalahan kecil akan dibesar-besarkan.
Karena sejak awal, kamu tidak benar-benar diinginkan.

Apa yang diucapkan Mama itu memang belum tentu terjadi.
Tapi pemikiran beliau ini cukup melekat bagi kami, terutama anak-anak perempuan.

Sebenarnya ini bukan sekedar mengejar atau menunggu.
Ini soal restu.
Karena memang pernikahan bukan hanya mengenai dua orang.
Tapi dua keluarga.

Sampai pernah terucap dalam doa saya, agar dipertemukan dengan jodoh saya, yang keluarganya menerima saya sebaik keluarga saya menerimanya.

Restu orang tua itu harga mati.
Persetujuan dari saudara itu pasti.
Tapi keluarga yang saya maksud lebih luas dari keluarga inti.

Bukankah sangat menyenangkan saat pasangan kita bisa diterima oleh seluruh keluarga besar?
Keluarga besar yang bahagia dan bangga punya menantu, ponakan, om, ipar seperti dia.

Dan Aku masih masih menunggu orang itu untuk mengejarku.

Berawal di kamar dan berakhir di kantor.
6 April 2016. 31 Mei 2016.

Arifah Marhamah

To: Ami Wannabe

“Amah, nanti kalau sudah ketemu samanya Ami-nya, tolong dikasih tahu, kalau Ami adalah orang yang ditunggu-tunggu. Bukan cuma Amah, tapi oleh semua keluarga”. (Ponakan1)

Ditulis di sini dulu ya, Nak. Kali aja nanti Amah lupa.. Hihi..

Wajah itu

Wajah murung itu ternyata belum pergi.

Sudah bilangan tahun berlalu.
Wajah itu masih menyimpan rasa pilu.
Setidaknya begitu, yang tertangkap oleh mataku.

Masih teringat dengan jelas.
Sosok kecil pemalu yang selalu bersembunyi di balik badan Sang Ibu.
Belasan tahun lalu, saat kami, mungkin pertama kali bertemu.

Kisah hidupnya yang terlalu mengharu biru.
Masih kuingat dengan jelas di benakku.
Hingga saat ini.

Ditinggal pergi-entah kemana-oleh Si Ayah saat ia masih dalam kandungan.
Sang Ibu meninggal dunia saat ia masih berumur tujuh tahun-an.

Sendiri. Dia benar-benar sendiri.

Wajah pemalu itu kini bertambah pilu.
Seperti itu, yang tertangkap oleh mataku, dulu.

Sekarang, anak ini sudah tumbuh dewasa.
Masih setia melanjutkan pendidikannya.
Sendiri, tanpa sanak keluarga di sisinya.

Keluarga, lebih manis saat berada jauh dari kita”, ujar si Anak suatu ketika.

Mungkin, keluarga tak bisa banyak membantunya.
Mengantarnya ke sana, berharap masa depan yang lebih baik untuknya.
Mendoakan dari kejauhan, untuk segala kebaikannya.
Semoga Allah selalu melindunginya, di manapun dia berada.

MARKETING MELESET, KAKANDA.

“Fa, acaranya dimajuin ke jam 9.30, biar lebih cepat juga selesainya. Kamu datang jam 9.45 aja ga papa.”

“Nah loh, kok dimajuin? Aku rencananya mau kondangan dulu jam 9-an. Moga ga telat deh.”

“Kalau bisa jangan sampai kamu datangnya jam 10 ya. Ntar molor selesainya.”

The End.
Pembicaraan via BBM sama Kakak2 berakhir.

Waduuh, dapat kabar perubahan jadwal baru pagi ini.
Terpaksa merubah rencana yang sudah disusun dengan sedemikian rupa.

Rencananya jam 9 kondangan. Insya Allah ga telat buat ke acara yang semula terjadwal jam 10 itu.
Ini juga karena kondangannya ke rumah, coba kalau ke gedung, ga berani deh bikin rencana kondangan jam 9.

Harus mempercepat kerja pagi minggu ini.
Sambil nyuci sambil setrika, jemur pakaian terus makan.

Aaah Lupa! Belum nyari bahan bacaan modal ikut acara jam 9.30 ntar..
Soalnya ini acara bedah buku.
Bukunya ga punya, copiannya cuma punya 1 bab.
Udah lama banget dari terakhir kali gue diceritain isi bukunya, lupa-lupa ingat.

Browsing dari hape, nyari ebook-nya gak ketemu.
Koneksi putus nyambung.
Terpaksa buka laptop lagi, biar lebih gampang nyari.
Ketemunya cuma resume dari blog orang, ga papa lah, daripada ga da.

Mandi, siap-siap.
Si Motor ga mau nyala.
Abah udah capek bantuin nyalainnya, dasar udah tua ni motor, suseeeh hidupnya.
Okelah motor urusan ntar.
Bungkus kado dulu.
Gegara tadi mesti nyari bahan, jadi belum sempat bungkus kado.

Motor gimana? untungnya waktu gue yang injek, mau hidup dia.
Alhamdulillah.

Berangkat dari rumah udah 9.15.
Meleset nih meleset.

Wusshh wusshh. Berasa jadi pembalap pakai gamis.

Sampai kondangan, udah 9.25.
Oke fix, gue cuma ngasih kado terus salaman sama pengantin.

Jeng jeng jeng…
Pengantinnya belum ada.
Kepagian nih kepagian.

Ngasih kado, trus dapat souvenir.
Basa basi tanya, “Pengantinnya belum ada ya?” *udah tau nanya*
“Iya mba, makan aja dulu.”

Baiklah, makan dulu aja, sambil buka-buka hasil browsingan tadi pagi.
Baca bahan sambil makan.

Micropon udah berbunyi, vokalis organ tunggal udah mulai bersuara.
Gue bangkit.
Eh bener aja, pengantin udah ada di pelaminan.
Tapi mereka masih foto-foto.
Gue tunggu aja lah sebentar.

Pengantin dan kedua orang tua mempelai sudah berada di posisi.
Gue langsung cuss mau salaman.
Ngekor sama orang yang udah duluan antri mau salaman. hahaha

Sebenarnya ga enak sih kondangan keburu-keburu gini, tapi mau gimana lagi, yang penting udah menghadiri undangan. hehe..
Barakallah buat temen yang resepsi hari ini🙂

Habis salaman langsung pulang.
Jam berapa sekarang? hampir 9.45?
Telat nih telat.

Wusshh wuussh lagi.. Ke tempat berikutnya.

Sampai di tempat acara mungkin hampir jam 10 atau bahkan sudah jam 10.

Ya sudahlah, apa mau dikata, ini juga udah pakai jurus Valentino Rossi, tetep aja ga keburu.

Seterlambat ini, ternyata gue peserta pertama, baru ada satu kakak panitia di sana.

– acara berlangsung sampai jam 12 –

Selesai acara, ada pembagian souvenir buat yang datang di awal waktu..
Peserta pertama dan kedua.
Yeaaayy. Gue dapat satu.

Pas dibuka isinya…
Taraaa..
Pasta gigi dari HPAI lengkap dengan brosur + nama dan nomor hape Kakak2.

Barulah tersadar. BBM aneh dia tadi pagi.
Perasaan baru kali ini, disuruh datang ke acara terlambat.

Maafkan daku Kakanda jika mengacau rencana marketingmu..
Adikmu yang telat ini, jadi peserta pertama.
Adikmu ini dapat pasta gigi HPAI dan brosur yang bahkan bertumpuk di rumah.

Marketing meleset, Kakanda..
Setidaknya masih ada satu orang lagi yang bawa pulang brosur + namamu itu. Hahahaha

Hari ini, dapat pasta gigi HPAI gretongan, lumayan buat dipakai sendiri.

Salam dari Stokis HPAI,

Arifah Marhamah